KAJIAN AQIDAH SENIN MALAM 26 Desember 2016



KAJIAN AQIDAH

Daniel Barkah
Bab Rukun Iman
Senin Malam,  26 Rabi’ul Awwal 1438 – 26 Desember 2016

Assalamu’alaikum wr. wb.,
Muslimin dan muslimah yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,
Kembali kita kepada Kitab Al Ushuluts Tsalatsah (Tiga Prinsip Dasar) yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Abdul Wahab di-syarah oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, Allahuhu Yarham,  terakhir bahasan sampai pada Ma’rifah ke-2 yakni Ma’rifah Dinil Islam.

Dalam Ma’rifah Dinil Islam yang diambil sebagai rujukan ialah Hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, tentang Iman, Islam, Ihsan dan Tanda-Tanda Hari Kiamat,  yaitu Hadits dari Umar bin Khathab rodhiayallahu ‘anhu, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, disepakati oleh para Ulama tentang ke-Shohihannya, isi Hadits tersebut ialah tiga hal berkaitan dengan Iman, Islam dan Ihsan, dan satu hal lain yaitu Tanda-tanda Hari Kiamat.

Tentang Rukun Iman.
Sebelumnya sudah kita bahas tentang Islam, bahwa ber-Islam harus ber-dalil.  Ber-Islam harus punya Hujjah (Dasar Hukum), kenapa sholat, membayar Zakat, Haji dst.  Sekarang kita masuk pada pembahasan tentang Iman, yaitu seputar tentang Rukun Iman.  Sebenarnya tentang Rukun Iman sudah sering kita bahas, tetapi Rukun Iman tetap, tidak pernah bertambah sejak dahulu. Dan sudah cukup sering dibahas oleh para Ustadz/Kiai.

Tetapi karena kali ini pembahasan adalah dalam rangka Bedah Buku (Kitab Al ‘Ushuluts Tsalatsah), maka kita tunduk pada urutan dalam kitab tersebut, yakni sekarang kita sampai pada bahasan Bab Rukun Iman.


Definisi Iman
Oleh para Ulama dikatakan bahwa definisi tersebut bukan dari Nabi Saw dan bukan dari Sahabat. Melainkan disarikan dari penjelasan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam dan juga praktek para Sahabat.

Maka muncul kalimat:
Iman adalah:  Tasdiqun bil qolbi (Kepercayaan, keyakinan dalam hati)  Wa iqrorun billisani (Diikrarkan, diucapkan dengan liasan),  wa ‘amalun bil arkan (Dibuktikan dengan perbuatan). Banyak orang punya iman tetapi malu-malu untuk mempersaksikan, atau bisa jadi karena takut.
(Tasdiqun bilqolbi, wa iqrorun billisani, wa ‘amalun bil arkan.

Berdasarkan definisi tersebut,  maka perbuatan adalah bagian dari Iman.
Perbuatan merupakan tanda atau  identitas ke-Imanan seseorang. Iman adalah Bid’un wa sab’una syu’bah (bilangan antara Tiga sampai Sembilan)  dari 70 cabang.  Artinya Iman bisa dari 72 atau 73 atau 74 atau 75 sampai 79. Memindahkan duri atau sesuatu yang membahayakan dari tengah jalan agar tidak mencelakakan orang lewat, adalah bagian dari Iman. Dan merupakan Iman yang paling rendah.
Yang paling tinggi cabang dari Iman adalah kalimat :Lailaha illallah.

Iman bukan hanya ungkapan kata-kata, bukan hanya deklarasi, tetapi Iman adalah bicara dengan Pembuktian  dalam bentuk amal-perbuatan. Orang mengaku Iman dan yakin, tanpa pembuktian sama dengan bohong, ibarat Tong kosong berbunyi nyaring.

Para Ulama mengatakan bahwa Iman itu bisa naik-turun.
Bisa dilihat dari perbuatan dan tingkah laku seseorang yang bersangkutan. Untuk memperkuat bahwa sesuatu perbuatan adalah termasuk kategori Iman adalah Surat Al Baqarah ayat 143  (Akhir ayat) :

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

Dalam ayat tersebut, yang dimaksud Iman adalah sholat, karena ayat tersebut sedang bicara praktek sholat (tentang pemindahan arah Kiblat sholat). Allah memaksudkan Sholat bukan dengan kata “Sholat”, melainkan dengan kata “Iman”.  Dan yang dimaksud “Iman” adalah sholat. Sehingga perbuatan sholat tidak bisa dipisah dengan Iman.  Kalau orang beriman harus ada bukti dengan perbuatan (Sholat).

Dalam ayat : Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu, maksudya : Allah tidak akan menyia-nyiakan sholat-mu.  Sehingga dipahami bahwa Iman dengan sholat tidak bisa dipisahkan. Bila orang beriman pasti ia mengerjakan sholat.

I.Iman kepada Allah subhanahu wata’ala.
Ada 4 unsur yang dipahami :

1.Unsur Iman akan adanya Allah subhanahu wata’ala. Allah pasti ada, tidak mungkin tidak ada, pendekatannya melalui fitrah (dalam arti Tauhid), bahwa setiap bayi lahir tanpa pengaruh dari luar maka dipastikan bahwa bayi tersebut ber-Tauhid. Karena lahir dalam keadaan fitrah (Tauhid, bukan suci dari dosa).  Tergantung lingkungan setelah bayi itu lahir, apakah akan menjadi Majusi, Yahudi atau Nasrani.

a. Pendekatan Akal.  Bahwa segala sesuatu, Alam Semesta termasuk segala isinya pasti ada yang menciptakan (membuatnya). Dan Alam Semesta beserta isinya sedemikian tertib, demikian ideal. Contoh : Bumi ini tidak bulat benar, melainkan agak lonjong dan agak miring dari garis sumbunya. Kemiringannya-pun diatur dan ditentukan. Jarak antara bumi dan matahari adalah jarak yang proporsional. Tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh. Kemapanan dan kesinambungan alam semesta ini pasti ada yang mencipta-kan, Dia-lah Allah subhanahu wata’ala.
b. Pendekatan dalil Syar’i. Banyak ayat AlQur’an yang menjelaskan bahwa Allah Yang menciptakan Alam Semesta dan segala isinya. Termasuk men-ciptakan manusia.

2. Unsur Rububiyah-nya Allah subhanahu wata’ala, yaitu unsur Penciptaan, Pembuatan, Pengurusan, Pengaturan.

3.Unsur  Iman kepada Uluhiyah-nya Allah subhanahu wata’ala. Yaitu Allah satu-satunya yang layak disembah. Dan dua unsur (Rububiyah dan Uluhiyah) tidak boleh terpisah.

4. Unsur Iman kepada Nama dan Sifat Allah subhanahu wata’ala.

Beberapa ayat tentang Rububiyah-nya Allah Azza wa Jalla :
Surat Faathir ayat 13 :

Dia(Allah) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.

Surat Az Zukhruf ayat 9 :

Dan sungguh jika kamu(Muhammad) tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab: "Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui".

Maksudnya, kalau orang musyrik ditanya tentang siapa Pencipta langit dan bumi, maka mereka akan menjawab : Allah.

Demikian pula disebutkan dalam Surat Ali Imran ayat 18, Surat AlFurqon ayat 3, dan Surat Al Baqarah ayat 21.
Yang semunya itu mempertegas bahwa Kafir Quraisy sebetulnya ketika itu sudah ber-Tauhid, tetapi yang dimaksud adalah Tauhid Rububiyah, dimana masyarakat Kafir Quraisy telah meyakini bahwa Pencipta, Pengurus, yang menciptakan makhluk (manusia)  dan Alam Semesta adalah Allah. Itulah keimanan yang dimiliki oleh Kafir Quraisy. Maka mereka sering mengucapkan Wallahi (Demi Allah), padahal mereka musyrik.

Barulah muncul permasalahannya pada Tauhid Uluhiyah.
Pada Tauhid Ululhiyah (bahwa yang benar disembah hanyalah Allah), Allah berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 18 :

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Surat Al Furqan ayat 3 :

Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak Kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak Kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.
Maksudnya,  orang-orang Kafir Quraisy ketika itu menjadikan Tuhan mereka dalam bentuk patung  berhala yang bernama : Latta, Manat, Uzza, Hubal dst.nya.
Berhala-berhala itu tidak bisa menciptakan sesuatu bahkan berhala itu adalah buatan manusia.

Surat Al Baqarah ayat 21 :

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,

Bila Rububiyah-nya benar,  sudah yakin bahwa Allah maha Pencipta, Maha Mengurus Alam Semesta ini, maka lanjutannya adalah harus yakin bahwa satu-satunya  yang layak disembah adalah Allah saja.

Nama dan Sifat Allah.
Ada beberapa permasalahan yang cukup serius di antara umat Islam. Dari sebagian para Ulama ada satu yang dikeluarkan dari Islam karena penyimpangan Nama dan Sifat Allah tetapi masih juga diakomodir sebagai umat Islam, walaupun berbeda dalam masalah Nama dan Sifat Allah.

Lihat Surat Al A’raaf ayat 180 :

Hanya milik Allah Asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

Dalam Kitab Ibnu Katsir, disebutkan : Dan Bagi Allah sifat-sifat jamak yang Al A’la (Yang tinggi). Fissamawati wal Ardh (di langit dan juga dibumi), menegaskan bahwa Allah memiliki Sifat.   Lihat Surat Ar Ruum ayat 27 :

Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Pada bagian akhir : Allah punya sifat Laisa kamitslihi syai’un (Allah tidak sama dengan sesuatu makhluk-pun).
Wahuwassami’ul bashir (Maha Mendengar dan Maha Melihat). Ada kemiripan dengan sifat yang dipunyai  oleh makhluk, yaitu Mendengar dan Melihat. Tetapi yang berbeda adalah hakikatnya. Bagaimana Mendengarnya dan Melihatnya Allah hanya Allah saja yang tahu. Yang pasti berbeda dengan makhluk.  Karena Laisa kamitslihi syai’un sebagaimana disebutkan di atas.

Penyimpangan dalam Sifat.

1.Mu’aththillah, yang menolak adanya Sifat Allah.
Logika yang dibangun : Kalau Allah punya sifat, Dzat punya sifat maka akan muncul polemik : Ada dua yang Qodim ; Dzat Allah yang bersifat Qodim dan Sifat Allah yang juga bersifat Qodim. Kalau ada sifat Allah yang melekat pada Dzat  kemudian sama-sama Qodim, maka  ada dua yang Qodim yaitu Allah sebagai Eksistensi dan satu lagi sebagai Sifat. Kalau ada dua Qodim maka itu masuk kategori Syirik.

Maka kelompok Mu’aththilah menolak adanya Sifat Allah. Lalu bagaimana menerjemahkan Allah Maha Mendengar, Maha Melihat ? Mereka punya kalimat unik : Allah Melihat dengan Dzatnya, Allah Mendengar dengan Dzatnya, Allah Mengetahui dengan Dzatnya. dst. Jadi kembali kepada Dzat, bukan Sifat. Menurut kelompok ini tidak ada Sifat Allah. Kalau ada orang yang berani mengatakan bahwa Allah punya Sifat maka ia Musyrik.


2. Musyabbihah, menyerupakan Allah seperti makhluk.
Allah Maha Mendengar berarti Allah punya telinga, dan telinga Allah kira-kira sama dengan telinga makhluk. Bahkan menurut Injil (sekarang) : Bentuk manusia diserupakan dengan bentuk Allah yang ada di Surga. Artinya, bentuk Allah yang ada di Surga sama dengan kita (manusia).
Musyabbihah menyatakan bahwa Allah punya sifat Mendengar berarti punya telinga sebagaimana makhluk lain yang punya telinga, mata, dst.

Posisi Ahlussunnah ada dua :
Pertama: Seperti yang disampaikan oleh Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal, dengan konsep Tafwidz yaitu me-maknai Sifat-sifat Allah dengan makna yang kita (manusia) pahami.  Tetapi jika bicara Hakikat Sifat Allah maka itu adalah domein Allah ‘Azza wa Jalla.

Misalnya tentang Istawa (Bersemayam), tempat bersemayam Allah.  Tetapi hakikat bersemayam Allah seperti apa, Wallahu a’lam. Dan kita tidak boleh bertanya:  Bagaimana cara bersemayam Allah?.
Contoh : Dalam Hadits, disebutkan Allah turun ke bumi, maka dipahami saja Allah turun ke bumi. Tetapi Hakikat Allah turun ke bumi seperti apa, wallahu a’lam. Dan kita tidak dibolehkan bertanya : Bagaimana Allah turun ke bumi, caranya seperti apa, dst. pertanyaan demikian itu tidak boleh.

Imam Malik, Allahuyarham,  ketika ditanya oleh seorang muridnya terkait dengan Sifat Allah : Bagimana maksudnya, kenapa begini, kenapa begitu, dst, maka jawab Imam Malik : Beriman tentang Sifat Allah adalah Wajib. Bertanya tentang Sifat Allah adalah perkara yang Bid’ah.

Ditanyakan tentang Sifat Allah sampai detail,  adalah kerjaan para ahli Ilmu Kalam. Kenapa para ahli Ilmu Kalam membahas Sifat Allah sampai sedemikian detail ?.  Karena mereka punya kepentingan, yaitu banyak pihak di luar Islam yang tidak suka dengan Konsep Sifat Allah. Maka oleh ahli Ilmu Kalam dibikinlah menjadi Ilmu tersendiri yang membahas Sifat-Sifat Allah dalam pendekatan Ilmu Kalam, atau pendekatan Filsafat.

Sebetulnya, awalnya hanya untuk men-counter saja, tetapi lama-kelamaan alat untuk meng-counter dijadikan sebagai produk rujukan dalam memahami Sifat Allah.  Inilah yang dipahami, kalau Imam Ahmad, Imam Malik konsepnya : Tafwidz,  maka  Abul Hasan Al Asy’ari, (Kaum Asy’ariyah), termasuk ahli Ilmu Kalam, punya konsep :Ta’wil.
Jika Sifat Allah tidak bisa dijelaskan, maka Ta’wil-kan saja. Contoh : Allah punya tangan, hendaknya dipahami bahwa Allah punya Kekuasaan. Demikianlah memahami Sifat Allah dengan pendekatan Ta’wil.

Pertanyaan :  Bolehkah Ta’wil dihukumi kafir ?. Kalau Mu’aththilah dan Musyabihah dihukumi sebagai Kafir, apakah Ta’wil juga dihukumi Kafir ?

Penjelasan para Ulama :  Orang yang men-Ta’wil Sifat Allah tidak dikategorikan masuk dalam kekafiran. Maka tidak masuk pembahasan (tidak termuat) dalam Kitab Ushulutstsalatsah yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.

II. Iman kepada Malaikat.
Ada empat unsur :
1. Beriman kepada keberadaan para Malaikat. Kita yakini Malaikat itu ada : Jibril, Roqib, ‘Atid, Munkar, Nakir, Malik, Ridwan, Mikail, Isrofil, Malaikat Maut. (Tidak ada sebutan Izrail – pencabut nyawa).
2. Beriman kepada nama-nama Malaikat yang sudah disebutkan dalam AlQur’an dan Hadits. Tidak ada sebutan Izrail, (pencabut nyawa), lebih banyak disebutkan dalam Hadits sebagai malikat Maut. Izrail adalah bahasa Ibrani, yang kemudian disadur oleh orang-orang muslim, ke dalam agama Islam.
3. Beriman kepada sifat para Malaikat. Misalnya : Mikail sifatnya apa, dst.
4. Beriman kepada Tugas-tugas para Malaikat.

Demikian unsur beriman kepada para Malaikat, lihat Surat Faathir ayat 1 :

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Lihat Surat Al An’am ayat 93 :

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", Padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah." Alangkah dahsyatnya Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang Para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.

Lihat Surat Ar Ra’du ayat 24 :

(Sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum",  maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.

Masih banyak lagi ayat-ayat AlQur’an yang menunjukkan tentang adanya Malaikat.  Termasuk Surat At Tahrim ayat 6 tentang malaikat Zabaniyah yang kasar dan bengis.  Surat At Tahrim ayat 6 :

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

III.Iman kepada Kitab-Kitab.
Ada 4 unsur :

1. Beriman bahwa Kitab yang kita terima dari Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, sumbernya dari Allah subhanahu wata’ala. Bukan karangan Nabi Muhammad saw. melainkan beliau hanya sebagai “Petugas” untuk menyampaikan AlQur’an kepada umat manusia.
2. Beriman kepada nama-nama Kitab yang telah diturunkan sebelum AlQur’an : Taurat, Zabur, Injil,
3. Membenarkan semua isi dan kandungan AlQur’an.
4. Mengamalkan hukum yang terdapat dalam AlQur’an.

IV.Iman kepada Rasul-Rasul Allah.
1.Beberapa ayat AlQur’an menjelaskan tentang Iman kepada Rasul.
Lihat Surat Al Mu’min (Surat Ghofir) ayat 78 :

Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. tidak dapat bagi seorang Rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; Maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil.

Para Ulama menjelaskan bahwa jumlah Rasul ada 313 orang, Nabi ada 124.000 orang.  Yang wajib diimani hanya 25 yang dicantumkan dalam AlQur’an.
Yang mendapatkan sebutan Rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihissalam.
2.Para Nabi dan Rasul yang sudah Allah turunkan, Syari’atnya sama.
Terkait dengan konten-nya sama : Tauhid.  Yang berbeda hanyalah praktek Syari’atnya. Tetapi perbedaan tersebut tidak crusial.
Lihat Surat Asy Syuura ayat 13 :

Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).

Kalau orang tidak mau menerima Sunnah Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam maka tinggal pilih satu dari dua pilihan.
1. Allah timpakan kepada mereka Fitnah atau
2. Allah timpakan kepada mereka Adzab (siksa) yang pedih.

Surat An Nuur ayat 63 :

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.

V. Iman kepada Hari Akhir.
Ada 3 unsur :

1. Beriman kepada Hari Kebangkitan.  Iman kepada hari Akhir adalah meyakini adanya Hari Kebangkitan.
2. Beriman kepada hari Peng-Hisaban, bahwa kita akan dihisab (dihitung amal dan dosa-dosa kita).
3. Beriman adanya Surga dan Neraka. Termasuk didalamnya Fitnah Kubur, Nikmat dan Siksa Kubur.

Demikianlah yang disebutkan dalam Kitab ‘Ushulutstsalatsah yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Abdul Wahab.

Lihat Surat Al Mu’minun ayat 16 :

Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.

Tentang Hari Kebangkitan.
Lihat AlQur’an Surat Al Baqarah ayat 72 – 73.  Ayat 243,  ayat 259 dan tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ayat 260.

VI.Iman kepada Takdir.
Ada beberapa unsur Iman kepada Takdir :

1. Yakin bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mengetahui yang global dan mengetahui yang rinci.
2. Allah menulis ketentuan Takdir di dalam Lauhil Mahfudz.
3. Keberadaan makhluk atas kehendak Sang Khaliq (Allah Swt).
4. Semua makhluk adalah ciptaan Allah ‘Azza wa Jalla.

Penyimpangan dalam Takdir :
1. Jabbariyah, yaitu meyakini bahwa Allah memiliki absolut (Otoritas yang mutlak dalam menentukan manusia. Sehingga manusia tidak punya kehendak.  Semua diatur oleh Allah ‘Azza wa Jalla.
2. Qodariyah, manusia-lah yang punya kehendak, bebas tanpa batas. Allah tidak campur-tangan atas kehendak manusia.

Ahlussunnah wal Jamaah ada di antara Jabariyah dan Qodariyah. Yaitu bahwa manusia punya kebebasan  untuk memilih pilihan-pilihan yang Allah sediakan. Allah hanya memberikan izin. Allah pasti mengizinkan apapun pilihan kita (manusia). Tetapi tidak semua yang diizinkan, Allah Ridho.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat.
SUBHANAKALLAHUMMA WABIHAMDIKA ASYHADU AN LAILAHA ILLA ANTA, ASTAGHFIRUKA WA ATUBU ILAIK.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Tags: ,

Masjid At-Taqwa Kemanggisan

Masjid At Taqwa ini berlokasi di lingkungan Perumahan Perpajakan di daerah Kemanggisan tepatnya ada di Jl. Sakti IV No. 8 Kemanggisan, Jakarta Barat. Masjid berbangunan 2 lantai ini tidak pernah sepi dari jamaah setiap harinya. Berbagai kegiatan dakwah diselenggarakan di masjid At Taqwa ini.

0 comments

Leave a Reply