KAJIAN TAFSIR ALQUR’AN Surat Al Anfaal ayat 49 – 50

Kamis Malam, 13 Rabi’ul Aklhir 1438 H – 12 Januari 2017
Dr. H.M..Soetrisno Hadi, SH, MM


Bismillahirohmanirrohim,
Assalamu’alaikum wr.wb.,
Muslimin dan muslimah yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,
Sebagai kelanjutan kajian Tafsir AlQur’an sebelumnya, maka kali ini bahasan Tafsir AlQur’an adalah Surat Al Anfaal ayat 49 – 50 .

Surat Al Anfaal  ayat 49 :
(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: "Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya". (Allah berfirman): "Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, Maka Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".

Ayat 50 :
Kalau kamu melihat ketika para Malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar", (tentulah kamu akan merasa ngeri).


Keterangan Tafsir.
Ayat 49 : Kata orang munafik, Nabi Muhammad saw. dan  kaum muslimin di Madinah ditipu oleh agama Islam. Ketika mereka (orang munafik) mengatakan demikian, Allah subhanahu wata’ala mengajarkan cara menyikapinya, yaitu : “Barangsiapa yang bertawakal (berserah-diri) kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”,   maksudnya bahwa Allah sangat perkasa, sangat kuat, tetapi sangat bijaksana.

Dua sifat tersebut (Perkasa dan Bijaksana) tidak mungkin dimiliki oleh manusia biasa.   Biasanya kalau orang perkasa, kuat, tidak bijaksana, bahkan bengis, main pukul, kasar, dst.  Kalau orang itu bijaksana, biasanya tidak perkasa.
Tetapi Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Munafiq, adalah kata dalam bahasa AlQur’an, berasal dari kata : nafaqa – yunafiqu – munafiqun, artinya orang yang mengeluarkan (menafkahkan) mengeluarkan tanda-tanda keimanan, tetapi menyembunyikan tanda-tanda kekafiran.   Munafiq adalah orang yang menampakkan tanda-tanda ke-imanan, bicaranya, penampilannya, sikapnya, dst, seperti orang beriman tetapi sesungguhnya hatinya kafir.

Orang Munafiq muncul ketika Nabi Muhammad saw berada di Madinah.
Di masa itu mayoritas penduduk Madinah adalah Yahudi. Ada sebagian Nasrani, ada sebagian Musyrikin, Majusi dan Muslimin.  Muslimin dibagi dua : Muhajirin yang datang dari Mekkah, dan Anshor, muslimin asli Madinah. Ketika Nabi Muhammad saw hijrah dari Makkah ke Madinah,  terjadi perubahan di masyarakat Madinah. Tidak sedikit orang Yahudi yang masuk Islam.  Banyak orang-orang Nasrani Najran yang masuk Islam. Banyak juga orang musyrik Madinah yang masuk Islam. Demikian juga banyak orang Majusi yang masuk Islam. Sehingga mereka disebut : Anshor.

Ada juga yang tidak mau  mau masuk Islam, tetapi bertahan tetap menjadi Yahudi, atau Nasrani atau Majusi. Di antara yang bertahan tetap menganut agama asli, ada yang berpindah (masuk) Islam, dan ada juga yang kesana mau dan ke sini mau, mereka itulah yang disebut Munafiq.

Orang Munafiq menampilkan citra orang Islam, mereka sholat, tetapi sholatnya bukan karena Allah, tetapi semata-mata supaya di-akui sebagai muslim. Dan biasanya orang Munafiq yang berpura-pura Islam itu sholatnya hanya di waktu siang (Dhuhur, Ashar, Maghrib). Tetapi di waktu malam (Isya dan Subuh) tidak sholat karena gelap, tidak ada orang yang melihatnya. Maka sabda Rasulullah saw dalam sebuah Hadits Shahih : “Janganlah kamu menjadi orang munafiq yang tidak pernah sholat di waktu Isya dan Subuh”.

Dalam perjalanan waktu, Rasulullah saw membedakan Munafiq menjadi dua :
1. Munafiq besar, itulah yang semula orang kafir.
2. Munafiq kecil, ia orang Islam yang bila bicara dusta, bila janji ia ingkar, bila dipercaya ia khianat. Meskipun mereka sholat, puasa dst, mereka masuk kelompok Munafiq kecil.

Orang-orang yang hatinya berpenyakit.
Manusia bisa dilihat dari hatinya.  Hati manusia ada yang sehat, ada yang sakit dan ada hati yang mati. Hati yang sehat, adalah hati yang selamat. Nanti pada Hari Kiamat harata tridak lagi berguna, yang berguna adalah ketika manusia menghadap Allh swt. dengan hati yang selamat (sehat). Hati yang sehat adalah yang di dalam hati itu penuh dengan Iman. Karena hatinya penuh dengan Iman maka ia senang beramal-sholih. Ia adalah orang yang sukses.

Orang yang hatinya sakit diberitahukan oleh AlQur’an, Surat Al Baqarah ayat 10 :
Dalam hati mereka ada penyakit*) lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

*] Yakni keyakinan mereka terdahap kebenaran Nabi Muhammad s.a.w. lemah. Kelemahan keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap Nabi s.a.w., agama dan orang-orang Islam.

Hati dalam makna fisik adalah Hepar (lever) yang dipelajari oleh para mahasiswa Fakultas Kedokteran, dan Hati dalam arti non-fisik, yaitu jiwa, partikel halus yang ada dalam rohani manusia. Hati ini bisa sakit, bisa sehat. Hati itu sakit apabila dalam diri manusia itu ada penyakit, yaitu penyakit ragu-ragu terhadap Islam, karena dengki, iri dan dendam terhadap agama Islam.

Hati yang mati.
Disebutkan dalam AlQur’an Surat Al Baqarah ayat 7 :
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup. dan bagi mereka siksa yang amat berat.

Karena telah dikunci mati hatinya, maka pendengaran dan pandangannya juga mati, tidak berfungsi.  Punya telinga tetapi tidak mau mendengar tentang kebenaran. Matanya ,melek tetapi juga tidak bisa melihat kebenaran.
Sedangkan orang yang hatinya sehat, disentuh sedikit saja lalu sadar dan akan mengikuti jalan kebenaran itu. Setiap hari kita akan mendapatkan pelajaran.

Syaikh Yusuf Qardawi mengatakan : Hidup di dunia ini seperti dalam Madrasah (sekolahan). Setiap hari kita diajarkan oleh Allah subhanahu wata’ala,  ada orang senang, ada yang susah, ada orang sehat ada orang sakit, ada bayi lahir ada orang merninggal, dst. Ada dinamika demikian, karena ada Sang Pencipta, Dia-lah Allah subhanahu wata’ala.

Orang-orang yang hatinya mati, tidak bisa menangkap yang demikian itu.
Fungsi hati, telinga dan matanya tidak berjalan. Maka orang yang mati hatinya, akalnya,  mata dan telnganya tidak berfungsi, ia akan selalu berbuat salah. Hidupnya sesat, sempit dan merusak. Maka kita mempelajari AlQur’an agar hati-kita sehat, cerdas, fisik juga sehat sehingga memungkinkan kita bisa beribadah dan menikmati hidup.

Dalam ayat 49 tersebut, orang-orang yang hatinya sakit itu berkata : Orang-orang mukmin itu ditipu agamanya.   Benarkah orang beriman itu ditipu agamanya ? Untuk menjawab itu maka harus dicari latar belakang atau Asbabunnuzul turunnya ayat tersebut .
Asbabunnuzul ayat 49.
Diriwayatkan dari Imam Mujahid bahwasanya ia berkata : Sekelompok orang Quraisy seperti Qais bin Al Walid bin Mughirah, Al Harits bin Zam’ah bin Aswad bin Abdul Mutholib,  Ya’la bin Umayah, ‘As bin Munabih, mereka keluar bersama Quraisy lainnya dari Mekkah.
Ketika mereka keluar dari Mekkah menuju Madinah untuk berperang melawan orang-orang Muslim, mereka ragu yang membuat tidak mantap dalam ke-ikut sertaannya.  Namun ketika mereka melihat hanya sedikit jumlah pasukan Rasulullah saw (masih cerita Perang Badar),  lalu mereka berkata : “Orang-orang pengikut Muhammad itu tertipu oleh agama mereka”.

Orang-orang kafir yang jumlahnya 1000 orang itu menganggap bahwa orang-orang muslim pengikut Nabi Muhammad saw yang jumlahnya 313 orang  adalah orang-orang yang tertipu oleh bisikan agamanya (Islam). Orang-orang kafir yang berjumlah 1000 itu ragu-ragu dalam berperang melawan orang muslim yang berjumlah 313 orang yang yakin bahwa Allah akan membela mereka.

Munafiq, dari sisi bahasa dari kata : Nafaqa – Yunafiqu – Munafiqun, artinya mengeluarkan. Dari sisi istilah, dalam konteks sosial secara terminologi, Munafiq adalah orang yang dalam jiwanya (hatinya) terdapat penyakit. Yaitu dengan berpura-pura menjadi muslim padahal kafir. Mereka yang menampakkan ke-Imanan padahal ia menyembunyikan ke-Kafiran. Di Madinah ada seorang tokoh Yahudi yang berpura-pura menjadi Muslim, dia-lah Munafiq Besar, bernama Abdullah bin Ubay bin Zalul. Dialah tokoh Munafiq

Ayat 50 : Kalau kamu melihat (artinya kita tidak bisa melihatnya) ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir, seraya memukul dari muka dan belakang, (mereka para malaikat) itu berkata : “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”,

Dalam ayat : Kalau kamu bisa melihat, artinya kamu (kita, manusia) tidak akan bisa melihat. Yaitu bahwa ketika orang-orang kafir dalam proses kematiannya, malaikat mencabut nyawa mereka sambil memukuli orang kafir itu berkali-kali,  dari depan dan belakang, muka dan kepala serta punggung mereka dipukuli dengan pentungan besi, sambil mencabut ruh orang kafir itu dengan sangat keras dan bengis.

Itu adalah peringatan keras bagi  orang yang tidak beriman bahwa orang kafir itu akan susah dan sangat menderita selamanya.  Di dunia memang mereka bersenang-senang menikmati kenikmatan dunia, tetapi ketika mati mereka akan menghadapi kesulitan dan penderitaan yang sangat berat.  Belum lagi adzab Neraka, yang jauh lebih berat lagi.

Dalam perjalanan hidup manusia, setelah hidup di dunia lalu ia mati, ketika menjelang matinya ia mengalami Sakaratulmaut. Dalam sekarat (Sakaratulmaut)  itulah masa-masa kritis terjadi.

Menurut Syaikh Imam Qurthubi (seorang Ulama Ahli Tafsir bangsa Eropa) asal dari Qordova (Spanyol), orang Arab menyebutnya Qurthubah,  maka orang Qurthubah disebut Qurthubi.   Dalam Tafsirnya, beliau mengatakan bahwa untuk mencabut nyawa seseorang manusia,  malaikat yang terlibat banyak. Ada Malaikat pendahulu, yang datang lebih dahulu membawa baki, kalau yang akan dicabut nyawanya adalah orang sholih, maka baki-nya terbuat dari emas-berlian diambil dari Surga.

Kedua adalah Malaikat Rahmat datang dengat tugas : Ketika manusia dalam keadaan sekarat (Sakaratulmaut), Malaikat Rahmat datang memperlihatkan (Lihat AlQur’an Surat Fushshilat ayat 30) :

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".

Bayangkan, seseorang sudah akan mati (meninggal) lalu ada malaikat memberitahu kepada kita bahwa : Jangan takut  dan jangan sedih, bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Sambil Malaikat itu menunjukkan gambar rumah di surga yang akan ia tempati. Tentu orang itu akan semakin mantap dan bergembira sekali. Karena seumur-umur belum pernah melihat rumah di Surga yang demikian indah yang akan ia tempati.

Ketika orang itu sedang memandangi rumah di Surga itu, datanglah malaikat ke tiga yaitu Malaikat Maut. Bila orang itu punya dua syarat Imam dan Istiqomah, maka Malaikat Maut (pencabut nyawa) akan mencabut nyawa orang itu dengan lembut sekali, pelan-pelan sehingga tidak terasa.  Dan ketika nyawa dicabut dengan pelan dan halus, si orang itu bisa melihat nyawanya yang lepas, sambil berucap : Lailaha illallah (Tidak ada sesembahan kecuali Allah).

Setelah nyawa dicabut, dibawalah nyawa (Ruh)  itu dengan baki untuk dihadapkan kepada Allah subhanahu wata’ala dan diteruskan ke Surga. Lalu Ruh (nyawa) dikembalikan lagi pada jasadnya ketika jasad sudah dimandikan dan sudah dikafani, diletakkan antara jasad dan kain kafannya.
Ruh itu bisa tahu apa yang terjadi pada dirinya, siapa yang datang ta’ziyah, siapa yang mendo’akan, siapa yang menyolati dan siapa yang mengantar ke kubur. Dst.

Sampai masuk ke kubur, ada Haditsnya Riwayat Imam Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:  “Apabila jasad di masukkan ke kubur, dan ditinggal oleh orang-orang yang mengantarkannya, maka si Jasad itu didudukkan oleh malaikat dan datang dua malaikat, satu di kepalanya  dan satu di kakinya.
Kemudian dua malaikat itu memperlihat gambar Rasulullah  saw dan ditanyakan kepada si orang yang mati dalam kubur itu : Kenalkah kamu dengan orang ini ?”

Dalam Syarah Hadits Muslim itu dikatakan : Meskipun orang itu seumur-umur tidak pernah melihat Rasulullah saw, karena ia sering malukan sholat (rajin sholat), dalam sholat ada membaca Syahadat, dan dalam Syahadat selalu menyebut nama Nabi Muhammad saw, maka orang itu dengan lancar menjawab : “Dia hamba Allah dan Rasul-Nya”.

Begitu selesai jasad itu menjawab dengan lancar dan benar, maka tiba-tiba malaikat itu pergi dari ruang kubur itu, lalu menjadikan kuburnya itu Taman dari Surga yang indah, sejuk, tenang, damai. Maka senanglah jasad orang itu,  kemudian datanglah seorang yang sangat tampan.  Kalau yang dikubur itu laki-laki, maka datanglah seorang yang sangat cantik seperti bidadari. Perempuan cantik itu berkata : “Jangan takut, sesungguhnya aku adalah amal sholihmu ketika kamu di dunia, aku diperintah oleh Allah untuk menemanimu sampai datang Hari Kiamat”.  Maka hiduplah orang itu di Taman dari Surga itu bersama pasangannya (suami-isteri) dengan penuh suka-cita dan kenikmatan luar-biasa sampai hari Kiamat.  (Bila yang dalam kubur itu orang perempuan, maka yang datang adalah  seorang perjaka yang gagah, ganteng, putih bersih, yang akan menemani perempuan itu seperti suami-isteri sampai hari Kiamat.

Tetapi ada kesulitan lain yang akan dihadapi manusia ketika Sakaratulmaut.
Ia akan menghadapi gangguan Syaithan. Menurut Buku Siarushsholihin yang di tulis oleh Syaikh Abdussomad Al Falimbani, bahwa orang ysng sedang menghadapi sakaratulmaut, ia menghadapi kesulitan berat.  Saat-saat itu orang akan menghadapi dua syaithan, yang satu menyerupai ibunya dan yang satu lagi menyerupai ayahnya..

Dua syithan itu selalu mengganggu orang yang sedang sakaratulmaut. Syaithan yang menyerupai ayahnya berkata: “Nak, kalau kamu memang anak sholih, mari ikut ayahmu, menjadi Yahudi”.  Orang itu menjadi serba berat, kalau ditolak sepertinya tidak mungkin karena ia (syaithan) itu mengaku ayahnya. Tetapi bila diikuti masuk Yahudi, apa mungkin ia menjadi Yahudi ?

Ketika orang yang sedang sakaratulmaut itu menoleh ke kiri,  dilihatnya ibunya (yang sebenarnya ia syaithan) mengajak : “Nak, kalau kamu anak sholih, ikuti aku, ibumu menjadi Nasrani”. Itupun ujian berat. Karena yang mengajak itu ibunya (Syaithan yang meneyerupai ibunya), , bila tidak diikuti ia sangat berat karena yang mengajak ibunya, mana mungkin ditolak.   Sedang bila diikuti ia harus menjadi Nashrani, maka tidak mungkin.

Di sinilah pentingnya peranan kalimat Tauhid : Lailaha Illallah (Tidak ada sesembahan kecuali Allah), karena kita setiap hari selalu mengucapkan Lailaha Illallah, ketika digoda oleh syaithan laki-laki dan permpuan itu, lalu kita mengucapkan Lailaha Illallah, maka dua syaithan itu langsung kabur, menghi-lang.   Dan di saat Sakaratulmaut itu boleh diintervensi (dibantu) oleh orang dengan Talqin.

Yaitu orang-orang yang msaih hidup yang melihat  saudaranya sedang sekarat itu membantu dengan membaca Lailaha Illallah, berulang-ulang sampai orang yang sedang sakaratulmaut itu bisa meniru (mengucapkan Lailaha Illallah).  Maka ia akan menjadi orang yang selamat di Akhirat dan masuk Surga.

Do’a untuk selamat dari Sakaratulmaut :

Allahumma inna nas-aluka salamatan fiddin -
Wa’afiatan fi jasadi – Wa zaiyadatan fil ‘ilmi –
Wabarokatan firrizqi – Wa taubatan qoblalmaut –
Warohmatan ‘indal maut.- Wamaghfirotan ba’dalmaut.

Bagi orang yang tidak beriman (kafir) dihukum berangsur-angsur (Istidraj). Firman Allah subhanahu wata’ala : Bagi orang yang tidak mau menerima AlQur’an, kelak meraka akan Aku hukum dengan secara berangsur-angsur dari arah yang mereka tidak ketahui.
Dan orang yang tidak beriman tidak akan bertemu dengan Allah subhanahau wata’ala.

Sekian bahasan mudah-mudahan bermanfaat.
Sebelum di akhiri marilah kita membaca do’a untuk kita dan keluarga. Al Fatihah.

Do’a :
Bismillahirrohmanirrohim,
Allahumma bihaqqil Qur’an,
Wabi kalamikal qodim,
Wabi Muhammad khotaminnabiyyin,
Wabi haqqi Ummil Qur’an,
‘Allimnal Qur’an wafaqihna fiddin,
Wa’alimna ta’wil, wahdina ilassawa-issabil.

Allahumma inna nas-aluka imanan kamilan
Wayaqinan shodiqon, warizqon wasi’an,
Waqolban khosyi’an, walisanan dzakiron,
Wabadanan shobiron, wal’afwa ‘indal hisab,
Wannajata minannaar.

Allahummakhtimlana bi husnil khotimah,
Wala takhtim ‘alaina bi su’il khotimah,
Robbana atina fiddun-ya hasanah,
Wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannaar
Walhamdulillahirobbil’alamin.

Wassalamu’alikum wr.wb.
                                                         ___________

Tags: ,

Masjid At-Taqwa Kemanggisan

Masjid At Taqwa ini berlokasi di lingkungan Perumahan Perpajakan di daerah Kemanggisan tepatnya ada di Jl. Sakti IV No. 8 Kemanggisan, Jakarta Barat. Masjid berbangunan 2 lantai ini tidak pernah sepi dari jamaah setiap harinya. Berbagai kegiatan dakwah diselenggarakan di masjid At Taqwa ini.

0 comments

Leave a Reply