KAJIAN TAFSIR ALQUR’AN Surat Al Anfaal ayat 51 – 55

Kamis Malam, 27 Rabi’ul Akhir 1438H – 26 Januari 2017
Dr. H.M. Soetrisno Hadi, SH, MM


Assalamu’alaikum wr.wb.,
Muslimin dan muslimah yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala,
Sebagai kelanjutan bahasan Tafsir AlQur’an, maka berikut adalah bahasan Tafsir AlQur’an Surat Al Anfaal ayat 51 – 55.  Ayat ini merupakan kelanjutan ayat sebelumnya (ayat 50) yang menjelaskan bagaimana menderitanya orang-orang kafir ketika dicabut Ruh-nya (nyawanya) oleh malaikat pencabut nyawa.

Surat Al Anfaal ayat 51 :
Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya,

Ayat 52 :
(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi amat keras siksaan-Nya.

Ayat 53 :
(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Ayat 54 :
(Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan Kami tenggelamkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zalim.

Ayat 55 :
Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman.

Keterangan Tafsir.
Ayat 51 menjelaskan lebih lanjut ayat sebelumnya (ayat 50) : “Seandainya kamu bisa melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata) : Rasakanlah olehmu siksa  neraka yang membakar (tentu kamu akan merasa ngeri)”.

Maksudnya tidak mungkin manusia bisa melihat ketika malaikat mencabut nyawa orang kafir. Pertanyaannya : Kenapa orang-orang kafir matinya seperti tersebut dalam ayat 50 di atas ? (Mati dengan sangat sakit dan tersiksa)?.
Kematian manusia bisa terjadi dalam dua bentuk, yaitu :
1. Bentuk yang menyenangkan. (Husnul Khotimah). Yaitu mereka yang beriman dan beramal sholih, dan Istiqomah. Sesudah meninggal-pun proses berikutnya sampai di Surga menyenangkan, berjumpa dengan Wajah Allah subhanahu wata’ala (Lihat Surat Al Kahfi ayat terakhir).
2. Bentuk yang menyakitkan (Su’ul Khotimah).  Yaitu mereka orang-orang kafir (tidak beriman) dan melakukan amal-salah.

Ayat 51 menjawab pertanyaan tersebut, yaitu disebabkan perbuatan mereka sendiri dengan tangan mereka sendiri (ketika hidup di dunia).  Mereka disiksa demikian bukan karena Allah, bukan karena Allah benci dan murka kepada mereka. Karena perbuatan orang kafir itu sendiri yang selalu membuat kerusakan di dunia.
Dalam akhir ayat disebutkan : Allah sekali-kali tidak pernah menganiaya hamba-Nya.  Di sini Allah subhanahu wata’ala tampil sebagai Dzat Yang Adil.
Allah tidak pernah Dzolim.

Prof.Dr.Wahbah az Zuhaily  dalam Tafsirnya mengatakan :
Dalam ayat disebutkan : Perbuatan tanganmu sendiri. Karena sebagian besar perbuatan manusia di dunia dilakukan dengan tangan.

Ayat 52 : Allah subhanahu wata’ala Maha Bijaksana, yaitu memberikan fakta historis (sejarah) :  Keadaan mereka (orang kafir) yang sangat menyakitkan itu karena kekufuran mereka, amal-salah yang mereka perbuat, itu seperti keadaan Fir’aun ketika matinya. Dalam ayat disebutkan : Dan orang-orang sebelumnya.

Maksudnya, orang-orang sebelum Fir’aun : Kaum ‘Aad, (Kaum Nabi Huud) orangnya tinggi-tinggi dan besar-besar, mereka bisa membangun bangunan tinggi-tinggi,  arsitektur modern pada zamannya.  Mereka binasa karena kafir terhadap ayat-ayat Allah subhanahu wata’ala. Maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Sesungguhnya Allah Maha Kuat, amat keras siksaan-Nya.

Ayat 53 : Pelajarannya :
1. Agar manusia jangan kafir, tetapi taat dan patuhlah kepada Allah subhanahu wata’ala.
2. Manusia agar suka kepada Keadilan.
Ayat 54 : Keadaan orang-orang kafir itu sama dengan keadaan Fir’aun dan para pengikutnya, serta orang-orang sebelumnya. Mereka binasa. Maka kita sebagai orang beriman, jangan sekali-kali membuat dosa, sekecil apapun.
Nabi Daud ‘alaihissalam adalah salah seorang Nabi yang badannya gagah-perkasa, tinggi besar, kekuatannya luar-biasa, wajahnya ganteng, suaranya merdu, kalau perang pasti menang. Nabi Daud a.s. adalah penemu baju besi untuk perang, dia bisa mengalahkan Jalut raja kafir yang jauh lebih kuat dan besar. Nabi Daud bukan saja di beri kenikmatan berupa kekuasaan, tetapi juga kenikmatan berupa kekuatan seks yang luar-biasa. Isteri Nabi Daud sebanyak 99 orang.

Sudah punya isteri sebanyak itu, suatu hari Nabi Daud sedang berjalan, berpapasan dengan perempuan cantik. Sambil melihat perempuan itu Nabi Daud berfikir (melamun dalam hati) : “Coba seandainya ia menjadi isteri saya, alangkah nikmatnya”.  Maka turunlah malaikat Jibril menegur : “Wahai Daud. Allah memerintahkan  engkau untuk berpuasa selama empatpuluh hari”.
Nabi Daud bertanya : “Ada apa tiba-tiba Allah memerintahkan itu ?”. Jibril menjawab : “Karena engkau “Naksir” orang perempuan yang bukan isterimu”. Maka Nabi Daud melaksanakan perintah Allah itu berpuasa selama 40 hari.

Selanjutnya Nabi Daud a.s. ditegur oleh Allah subhanahu wata’ala : “Wahai Daud, kalau kamu berbuat dosa, jangan engkau lihat kecilnya dosa itu tetapi lihatlah kepada siapa kamu telah berbuat dosa.  Malu-lah kepada Allah”.

Kita sebagai umat Islam, hendaknya meniru Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, beliau setiap hari ber-Istighfar tidak kurang dari 100 kali Istighfar.

Dalam ayat 54 disebutkan : Dan Kami tenggelamkan Fir’aun  dan pengikut-pengikutnya.
Ceritanya dahulu di zaman Fir’aun berkuasa di Mesir, ia dan bala tentaranya ingin membunuh Nabi Musa dan orang-orang pengikut Nabi Musa (Kaum Bani Israil).  Maka Nabi Musa a.s. mengajak kaum Bani Israil untuk bersama-sama pindah dari Mesir ke negerinya (Falistin).  Mereka sebanyak 600.000 orang mengadakan perjalanan pindah (eksodus) dipimpin oleh Nabi Musa a.s.  Mendengar berita itu maka Fir’aun berusaha mengejar Nabi Musa dan para pengikutnya untuk dibunuhnya.
Sampai di tepi laut Merah, Nabi Musa a.s. beserta pengikutnya merasa terpojok, terhalang oleh laut.  Sementara itu Fir’aun dan balatentaranya sejumlah 1.200.000 orang sedang mengejar mereka, untuk membunuhnya dan menghabisi kaum Bani Israil.
Nabi Musa bingung, sebab sebentar lagi balatentara Fir’aun segera datang, untuk membunuhnya, tetapi untuk  meneruskan perjalanan,  terhalang laut.
Nabi Musa as berdoa minta pertolongan kepada Allah subhanahu watala, maka turunlah Jibril membisikkan ke telinga Nabi Musa as untuk memukulkan tongkatnya ke laut.   Jibril berkata : “Hai Musa, pukulkan tongkatmu ke laut!”.
Maka dipukulkanlah tongkat Nabi Musa as ke laut dan terbelah-lah laut Merah, sehingga laut itu kering, dan Nabi Musa as beserta kaum Bani Israil yang ber-jumlah 600.000 orang itu bisa selamat menyeberangi laut Merah.  Sampai di ujung pantai seberang Nabi Musa as beserta pengikutnya selamat,  barulah Fir’aun dengan balatentarannya mulai menyeberangi laut merah. Sampai di tengah laut, atas kehendak Allah subhanahu wata’ala, laut yang terbelah itu menyatu kembali menutup, dan Fir’aun dan balatentaranya tenggelam di laut Merah.

Maka disebutkan dalam ayat 54 : “Kami tenggelamkan Fir’aun  dan pengikut-pengikutnya  dan kesemuanya adalah orang-orang yang dzolim”.
Pelajarannya : Kedzoliman membawa kepada kehancuran.

Prof. Dr. Wahbah dalam Tafsirnya mengatakan : Sampai dua kali kalimat dalam ayat tersebut diulang,  menunjukkan pentingnya memperhatikan kasus-kasus zaman dahulu.

Ayat 55 : Orang kafir adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana kita ketahui, manusia adalah sama (tidak berbeda) dengan hewan. Bedanya : Hewan berkaki empat, sedangkan manusia berkaki dua dan berjalan tegak.  Seburuk-buruk makhluk di sisi Allah subhanahu wata’ala adalah orang Kafir.  Mereka  buruk karena tidak beriman.  Kekufuran membuat keburukan. Na’udzubillahi min dzalik. !.

Orang Kafir akan sengsara di alam Kubur, dan selanjutnya ia akan menderita di Neraka. Maka pilihan paling bagus adalah menjadi orang beriman dibanding orang Kafir. Bagaimana agar kita Husnul Khotimah ? Imam An Nawai berkata : “Kalau kalian ingin Hunsul Khotimah, maka jangan tingglkan sholat Sunnah Qobliyatal Subuh”.
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dalam Hadits Shahih bersabda kepada sahabat Abu Dzar : “Ya Abu Dzar,  perbaharuilah imanmu dengan banyak mengucapkan Lailaha illallah”.

Sekian bahasan, mudah-mudahan bermanfaat. Sebelum di akhiri marilah kita membaca do’a untuk kita dan keluarga. Al Fatihah.

Do’a :
Bismillahirrohmanirrohim,
Allahumma bihaqqil Qur’an,
Wabi kalamikal qodim,
Wabi Muhammadin khotaminnabiyyin,
Wabi  haqqi Ummil Qur’an,
‘Allimnal Qur’an, wafaqihna fiddin,
Wa’alimna ta’wil, wahdina ilassawa-issabil.

Allahumma inna nas-aluka imanan kaamilan,
Wayaqinan shodiqon, warizqon wasi’an,
Waqolban khosyi’an, walisanan dzakiron,
Wabadanan shobiron, wal’afwa ‘indal hisab,
Wannajata minannar.

Allahummakhtimlana bi husnil khotimah,
Wala takhtim’’alaina bi su’il khotimah,
Robbana wafiklana bitho’atika,
Wa atmim taqshirona wataqobbal minna,
Robbana atina fiddun-ya hasanah,
Wafil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannar.
Walhamdulillahirobbil ‘alamin.

Wassalamu’alaikum wr. wb.
                                                ___________


Tags: ,

Masjid At-Taqwa Kemanggisan

Masjid At Taqwa ini berlokasi di lingkungan Perumahan Perpajakan di daerah Kemanggisan tepatnya ada di Jl. Sakti IV No. 8 Kemanggisan, Jakarta Barat. Masjid berbangunan 2 lantai ini tidak pernah sepi dari jamaah setiap harinya. Berbagai kegiatan dakwah diselenggarakan di masjid At Taqwa ini.

0 comments

Leave a Reply